Voluntourism: Liburan Anti Mainstream yang Bikin Nagih!

Voluntourism: Liburan Anti Mainstream yang Bikin Nagih!
Gue, si anak rantau yang kerjaannya cuma ngitungin tanggal gajian, akhirnya memutuskan untuk mengambil cuti panjang. Bukan buat rebahan di Bali atau party di Bangkok, tapi buat nyobain sesuatu yang agak beda: voluntourism. Awalnya sih mikir, "Ah, palingan kerja bakti doang, foto-foto, terus upload di Instagram biar keliatan impactful." Tapi ternyata, pengalaman yang gue dapet jauh lebih mind-blowing dari sekadar pencitraan.
Voluntourism itu, sederhananya, liburan yang dikombinasikan dengan kegiatan sukarela. Jadi, lo nggak cuma sightseeing, tapi juga ikut berkontribusi positif buat masyarakat atau lingkungan di tempat yang lo kunjungi. Bayangin aja, lo bisa sambil belajar budaya baru, kenalan sama orang-orang lokal, dan ngerasa berguna. Gokil kan?
Kenapa Voluntourism?

Oke, gue ngerti, banyak orang yang mikir liburan itu buat escape dari rutinitas, bukan malah nambah kerjaan. Tapi dengerin dulu, voluntourism itu bukan berarti lo harus jadi Mother Theresa atau superhero penyelamat dunia. Ini tentang berbagi waktu dan tenaga lo buat hal-hal yang lebih besar.
Buat gue sendiri, ada beberapa alasan kenapa gue tertarik sama voluntourism:
Bosen sama liburan yang gitu-gitu aja: Pantai, mall, hotel... udah terlalu mainstream. Gue pengen nyobain sesuatu yang lebih meaningful dan challenging. Pengen belajar hal baru: Voluntourism itu kesempatan emas buat belajar tentang budaya, bahasa, dan cara hidup orang lain. Lo bakal keluar dari comfort zone lo dan ngelihat dunia dari perspektif yang berbeda. Pengen berkontribusi: Gue percaya, setiap orang punya potensi untuk membuat perubahan positif di dunia. Voluntourism itu salah satu cara buat mewujudkan potensi itu. Pengen kenalan sama orang-orang yang passionate: Di kegiatan voluntourism, lo bakal ketemu sama orang-orang yang punya visi dan misi yang sama. Ini kesempatan buat membangun jaringan dan menjalin persahabatan yang langgeng. Buat konten IG yang anti-basa-basi: Ya, jujur aja, gue juga pengen foto-foto keren buat di-upload di Instagram. Tapi bukan cuma sekadar foto liburan biasa, tapi foto yang punya cerita dan makna. #voluntourism #travelgram #impactful #blessed (ups, sorry).
Milih Destinasi dan Program Voluntourism

Setelah memutuskan buat nyobain voluntourism, langkah selanjutnya adalah milih destinasi dan program yang cocok. Ini penting banget, soalnya kalau salah pilih, bisa-bisa lo malah stres dan kecewa.
Ada banyak banget organisasi dan platform yang nawarin program voluntourism di seluruh dunia. Mulai dari ngajar bahasa Inggris di pedalaman Nepal, konservasi penyu di Kosta Rika, sampai bangun rumah untuk korban bencana alam di Filipina. Tinggal pilih sesuai minat dan budget lo.
Beberapa tips dari gue buat milih destinasi dan program:
Pikirin apa yang lo suka dan kuasai: Kalau lo suka anak-anak, coba cari program yang berhubungan dengan pendidikan. Kalau lo jago masak, coba cari program yang berhubungan dengan penyediaan makanan. Jangan milih program yang lo nggak minat atau nggak punya skill-nya, soalnya nanti malah jadi beban. Riset organisasi yang nawarin program: Pastiin organisasi itu punya reputasi yang baik dan transparan dalam penggunaan dana. Baca review dari volunteer sebelumnya dan cari tahu apa aja yang perlu lo persiapkan. Jangan sampai lo ketipu sama organisasi abal-abal yang cuma pengen nyari duit. Pertimbangin budget: Program voluntourism biasanya ada biayanya, soalnya organisasi perlu menutupi biaya operasional, akomodasi, dan makanan. Tapi ada juga program yang gratis atau bahkan memberikan uang saku. Sesuaikan dengan budget lo dan jangan lupa perhitungkan biaya transportasi, visa, dan asuransi. Jangan terlalu idealis: Ingat, lo bukan superhero. Jangan berharap bisa langsung mengubah dunia dalam waktu singkat. Fokus aja sama kontribusi kecil yang bisa lo berikan dan nikmati prosesnya. Jangan terlalu perfeksionis atau kecewa kalau ada hal-hal yang nggak sesuai dengan ekspektasi lo. Baca baik-baik persyaratan dan deskripsi program: Ini penting banget, soalnya lo harus tahu apa aja yang diharapkan dari lo, apa aja yang akan lo kerjakan, dan apa aja yang perlu lo bawa. Jangan sampai lo kaget atau kewalahan pas udah nyampe di lokasi. Cek visa dan persyaratan perjalanan lainnya: Pastiin paspor lo masih berlaku dan lo punya visa yang sesuai. Cari tahu juga apakah ada vaksinasi atau tes kesehatan yang diperlukan. Jangan sampai lo ditolak masuk atau kena masalah hukum gara-gara masalah administrasi.
Pengalaman Gue di Desa Terpencil di Indonesia

Setelah browsing sana-sini, akhirnya gue memutuskan untuk ikut program voluntourism di sebuah desa terpencil di Jawa Timur. Program ini fokus pada pengembangan pariwisata berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Gue bakal bantu-bantu bikin website desa, ngajarin bahasa Inggris ke anak-anak, dan ikut serta dalam kegiatan pelestarian lingkungan.
Perjalanan ke desa itu lumayan challenging. Gue harus naik kereta api, bus, dan ojek selama belasan jam. Sempet nyasar juga gara-gara GPS yang error. Tapi begitu nyampe, gue langsung disambut dengan senyum ramah dari warga desa. Mereka sederhana banget, tapi hatinya tulus dan penuh semangat.
Selama di desa, gue tinggal di rumah salah satu warga. Rumahnya sederhana, tapi bersih dan nyaman. Gue makan bareng keluarga itu, ngobrol-ngobrol tentang kehidupan mereka, dan belajar bahasa Jawa. Awalnya sih agak canggung, tapi lama-lama gue ngerasa kayak bagian dari keluarga itu sendiri.
Kegiatan gue sehari-hari cukup bervariasi. Pagi-pagi gue ngajarin bahasa Inggris ke anak-anak di sekolah dasar. Mereka lucu-lucu banget dan semangat belajarnya tinggi. Siangnya gue bantuin bikin website desa. Gue belajar banyak tentang SEO, digital marketing, dan content creation. Sorenya gue ikut serta dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Gue nanam pohon, bersihin sampah, dan ngasih edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Ada banyak banget pengalaman seru dan berkesan selama gue di desa. Salah satunya adalah ketika gue diajak ikut panen kopi. Gue belajar cara memetik kopi yang benar, menjemur, dan menggilingnya. Aromanya harum banget dan rasanya juga enak banget. Gue juga sempet nyobain tari tradisional dan main gamelan. Meskipun nggak jago, tapi seru banget bisa ngerasain budaya lokal.
Tapi nggak semuanya berjalan mulus. Ada juga beberapa tantangan yang harus gue hadapi. Salah satunya adalah masalah bahasa. Gue nggak terlalu lancar bahasa Jawa, jadi seringkali ada salah paham atau kesulitan komunikasi. Selain itu, fasilitas di desa juga masih terbatas. Listrik sering mati, air bersih susah didapat, dan internet lemot banget. Tapi gue berusaha untuk beradaptasi dan nggak terlalu banyak ngeluh.
Kejadian Absurd dan Konyol

Namanya juga traveling, pasti ada aja kejadian absurd dan konyol yang bikin ngakak. Selama di desa, gue sempet ngalamin beberapa kejadian yang nggak bakal gue lupain:
Nyasar di hutan gara-gara ngikutin monyet: Gue lagi jalan-jalan di hutan sendirian, tiba-tiba ada monyet yang nyamperin gue. Monyet itu kayak ngajakin gue buat ngikutin dia. Gue penasaran, ya udah gue ikutin aja. Eh, ternyata monyet itu malah bawa gue ke tempat yang nggak gue kenal. Gue nyasar deh! Untung ada warga desa yang lewat dan nolongin gue. Salah makan sambal terpedas di dunia: Waktu makan malam, gue disuguhi sambal yang katanya enak banget. Gue percaya aja dan langsung nyicipin banyak. Eh, ternyata sambal itu pedesnya nggak karuan! Gue langsung kebakaran jenggot dan minum air sebanyak-banyaknya. Warga desa pada ngakak ngelihatin gue. Kejebak di kandang sapi gara-gara hujan deras: Gue lagi bantuin warga desa ngurus sapi, tiba-tiba hujan deras banget. Gue panik dan lari nyari tempat berteduh. Eh, malah kejebak di kandang sapi! Kandangnya becek dan bau banget. Gue nungguin hujan reda sambil dikelilingin sapi-sapi yang pada ngeliatin gue dengan tatapan aneh.
Insight dan Pelajaran yang Gue Dapet

Dari pengalaman voluntourism ini, gue belajar banyak hal tentang kehidupan, manusia, dan diri gue sendiri. Beberapa insight dan pelajaran yang gue dapet:
Kebahagiaan itu sederhana: Warga desa nggak punya banyak harta, tapi mereka selalu bahagia dan bersyukur. Mereka menghargai hal-hal kecil dalam hidup, seperti keluarga, teman, dan alam. Gue jadi sadar, kebahagiaan itu nggak harus dicari jauh-jauh, tapi ada di sekitar kita. Manusia itu pada dasarnya baik: Meskipun ada beberapa orang yang jahat, tapi sebagian besar manusia itu baik dan peduli. Warga desa selalu siap membantu orang lain tanpa pamrih. Mereka tulus dan ramah sama siapa aja. Gue jadi termotivasi untuk jadi orang yang lebih baik dan lebih peduli sama sesama. Kita semua punya potensi untuk membuat perubahan: Sekecil apapun kontribusi yang kita berikan, itu tetap berarti. Gue ngerasa senang bisa membantu masyarakat desa dan membuat perbedaan dalam hidup mereka. Gue jadi yakin, kita semua punya potensi untuk membuat perubahan positif di dunia. Pentingnya menjaga lingkungan: Alam itu sumber kehidupan. Kita harus menjaganya agar tetap lestari. Warga desa sangat peduli sama lingkungan mereka. Mereka menjaga hutan, sungai, dan tanah agar tetap bersih dan sehat. Gue jadi sadar, kita semua punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan. Keluar dari zona nyaman itu penting: Voluntourism memaksa gue untuk keluar dari zona nyaman gue. Gue harus beradaptasi dengan lingkungan baru, budaya baru, dan orang-orang baru. Awalnya sih agak berat, tapi lama-lama gue ngerasa lebih kuat dan lebih percaya diri. Gue jadi berani nyobain hal-hal baru dan menghadapi tantangan.
Voluntourism: Bikin Nagih!

Setelah nyobain voluntourism, gue jadi ketagihan! Gue pengen nyobain program voluntourism di negara lain, ketemu sama orang-orang baru, dan belajar hal-hal baru. Gue percaya, voluntourism itu bukan cuma sekadar liburan, tapi juga investasi untuk masa depan. Investasi untuk diri sendiri, untuk masyarakat, dan untuk planet ini.
Buat lo yang pengen nyobain liburan anti mainstream yang bikin nagih, gue saranin buat nyobain voluntourism. Jangan takut buat keluar dari zona nyaman lo dan berkontribusi positif buat dunia. Gue jamin, lo nggak bakal nyesel!
Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, explore dunia sambil berbuat baik! #voluntourism #travelwithpurpose #maketheworldabetterplace
Posting Komentar untuk "Voluntourism: Liburan Anti Mainstream yang Bikin Nagih!"
Posting Komentar