Menyusuri Jejak Sejarah Joseon: Antara Drama Korea, Istana Megah, dan Kejutan Budaya

Menyusuri Jejak Sejarah Joseon: Antara Drama Korea, Istana Megah, dan Kejutan Budaya
Oke gaes, jadi ceritanya gini. Gue, si anak bawang yang keranjingan drama Korea, akhirnya kesampaian juga nginjekin kaki di Korea Selatan. Bukan buat ketemu oppa-oppa ya (walaupun nggak nolak juga sih kalo ada yang nyangkut!), tapi buat napak tilas sejarah Joseon yang selama ini cuma gue tonton di layar kaca. Bayangin aja, Istana Gyeongbokgung yang megah, makam-makam kerajaan yang sakral, sampai desa-desa tradisional yang masih kental auranya… Bikin merinding sekaligus excited!
Gue nggak mau sok-sokan jadi sejarawan dadakan di sini, tapi gue pengen cerita pengalaman gue menyusuri jejak sejarah Joseon dengan cara yang santai, nyeleneh, dan pastinya jujur. Siap-siap ya, perjalanan ini bakal penuh kejutan, kekonyolan, dan mungkin sedikit drama (ala-ala drama Korea gitu deh).
Berburu Tiket Murah dan Mempersiapkan Mental

Sebelum berangkat, gue udah riset gila-gilaan tentang tempat-tempat bersejarah di Korea. Mulai dari googling, nonton vlog traveler, sampai baca buku sejarah (sumpah, ini beneran!). Yang paling penting sih, nyari tiket pesawat yang harganya nggak bikin dompet nangis bombay. Akhirnya, setelah berbulan-bulan mantengin aplikasi travel, gue dapet juga tiket promo yang lumayan miring. Yes!
Selain itu, gue juga nyiapin mental. Secara, gue kan nggak bisa bahasa Korea sama sekali. Cuma tahu "annyeonghaseyo" (halo), "kamsahamnida" (terima kasih), dan beberapa kalimat cinta dari drama Korea (penting!). Jadi, gue download aplikasi penerjemah, belajar beberapa frasa dasar, dan berdoa semoga nggak nyasar di jalan.
Istana Gyeongbokgung: Ketika Sejarah Bertemu Instagram

Hari pertama di Seoul, gue langsung menuju ke Istana Gyeongbokgung. Ini nih, istana terbesar dan paling ikonik di Seoul. Begitu masuk, gue langsung terpukau sama kemegahan arsitekturnya. Bangunan-bangunan kayu yang dicat warna-warni, atap-atap melengkung yang indah, dan taman-taman yang asri… Bener-bener bikin gue merasa kayak lagi masuk ke dunia drama Korea!
Tapi, gue juga nggak bisa bohong, Istana Gyeongbokgung ini rame banget sama turis. Susah banget buat nyari spot foto yang sepi. Alhasil, gue harus rela antri panjang, sikut-sikutan, dan kadang-kadang harus ngalah sama ibu-ibu yang pengen foto ala-ala ratu Joseon.
Satu hal yang gue notice, banyak banget orang yang nyewa Hanbok (pakaian tradisional Korea) buat foto-foto di istana. Gue sempet tergoda juga sih, tapi mikir-mikir lagi, kayaknya nggak cocok sama kepribadian gue yang urakan ini. Tapi ya, buat kalian yang pengen merasakan sensasi jadi bangsawan Joseon, Hanbok ini wajib dicoba!
Desa Bukchon Hanok: Menyusuri Gang-Gang Sempit yang Instagramable

Setelah puas foto-foto di Istana Gyeongbokgung, gue lanjut ke Desa Bukchon Hanok. Ini nih, desa tradisional yang masih mempertahankan rumah-rumah Hanok (rumah tradisional Korea) yang berusia ratusan tahun. Desa ini terletak di perbukitan, jadi kita harus siap-siap buat jalan nanjak dan nurunin tangga. Lumayan buat bakar kalori!
Yang bikin gue kagum sama Desa Bukchon Hanok ini adalah gang-gangnya yang sempit dan berkelok-kelok. Di sepanjang gang, kita bisa nemuin toko-toko souvenir, kafe-kafe lucu, dan galeri seni yang unik. Suasana di desa ini juga tenang dan damai, jauh dari hiruk pikuk kota Seoul.
Tapi, ada satu hal yang bikin gue agak nggak nyaman di Desa Bukchon Hanok ini. Soalnya, desa ini masih dihuni sama penduduk asli. Jadi, kita harus jaga kesopanan dan nggak boleh berisik. Gue sempet ditegur sama seorang ahjumma (ibu-ibu) karena terlalu berisik waktu foto-foto di depan rumahnya. Malu banget!
Makam-Makam Kerajaan: Ziarah Spiritual dan Refleksi Diri

Selain istana dan desa tradisional, gue juga mengunjungi beberapa makam kerajaan di Seoul. Salah satunya adalah Makam Seolleung dan Jeongneung. Makam ini adalah tempat peristirahatan terakhir Raja Seongjong (raja ke-9 Joseon) dan istrinya, Ratu Jeonghyeon.
Suasana di makam ini sangat tenang dan sakral. Pepohonan pinus yang menjulang tinggi, rumput hijau yang terhampar luas, dan udara segar yang menyejukkan… Bener-bener bikin gue merasa damai dan tenang. Gue sempet duduk di bawah pohon pinus, merenung, dan merefleksikan diri.
Gue jadi mikir, kehidupan manusia itu singkat banget. Raja dan ratu yang dulunya berkuasa dan punya segalanya, sekarang cuma tinggal nama di batu nisan. Gue jadi sadar, yang paling penting dalam hidup ini adalah bagaimana kita bisa memberikan manfaat bagi orang lain dan meninggalkan warisan yang baik.
Museum Nasional Korea: Belajar Sejarah Sambil Ngadem

Buat kalian yang pengen belajar sejarah Joseon dengan lebih mendalam, gue rekomendasiin buat mengunjungi Museum Nasional Korea. Museum ini punya koleksi artefak sejarah yang lengkap banget. Mulai dari keramik, lukisan, patung, sampai senjata-senjata kuno.
Gue sendiri ngabisin waktu berjam-jam di museum ini. Gue kagum sama keahlian para pengrajin Korea zaman dulu. Mereka bisa bikin keramik yang halus banget, lukisan yang detail banget, dan patung yang ekspresif banget. Bener-bener bikin gue merasa kecil dan nggak ada apa-apanya.
Selain itu, museum ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang modern. Ada audio guide, video presentasi, dan area interaktif yang bikin belajar sejarah jadi lebih menyenangkan. Plus, museum ini juga ber-AC, jadi kita bisa ngadem sambil belajar sejarah. Penting banget!
Makanan Korea: Lebih dari Sekadar Kimchi dan Bibimbap

Nggak lengkap rasanya kalau ke Korea tapi nggak nyobain makanan khasnya. Gue sendiri udah nyobain berbagai macam makanan Korea, mulai dari kimchi, bibimbap, bulgogi, sampai tteokbokki. Enak semua!
Tapi, gue pengen nyobain makanan yang lebih otentik dan jarang ditemuin di restoran-restoran Indonesia. Akhirnya, gue nemuin sebuah restoran kecil yang menyajikan makanan rumahan khas Korea. Gue pesen sundubu jjigae (sup tahu pedas) dan kimchi jjigae (sup kimchi pedas). Rasanya… Nagih banget!
Selain itu, gue juga nyobain street food Korea yang lagi hits. Ada hotteok ( Pancake isi gula merah), bungeoppang (kue ikan isi kacang merah), dan tteokbokki (kue beras pedas). Harganya murah meriah dan rasanya enak banget. Cocok buat cemilan sambil jalan-jalan.
Satu hal yang gue perhatiin, makanan Korea itu pedasnya nampol banget. Buat kalian yang nggak kuat pedas, harus hati-hati ya. Jangan lupa bawa minum yang banyak!
Kejadian Absurd dan Konyol: Pengalaman yang Tak Terlupakan

Selama di Korea, gue ngalamin banyak kejadian absurd dan konyol yang bikin gue ngakak sendiri. Salah satunya, waktu gue nyasar di stasiun kereta bawah tanah. Stasiun kereta di Seoul itu gede banget dan jalurnya rumit banget. Gue udah ikutin petunjuk arah dengan benar, tapi tetep aja nyasar. Akhirnya, gue harus nanya sama petugas stasiun yang nggak bisa bahasa Inggris. Untungnya, ada seorang ahjussi (bapak-bapak) yang baik hati mau nganterin gue ke jalur yang benar. Makasih banget ya, ahjussi!
Selain itu, gue juga pernah salah pesen makanan di restoran. Gue pesen sup yang gue kira isinya daging sapi. Ternyata, isinya jeroan sapi. Gue langsung kaget dan nggak nafsu makan. Tapi, gue nggak mau buang-buang makanan. Akhirnya, gue paksa diri buat ngabisin sup jeroan itu. Rasanya… Bikin eneg!
Tapi, semua kejadian absurd dan konyol itu justru bikin perjalanan gue ke Korea jadi lebih berwarna dan tak terlupakan. Gue jadi punya cerita seru buat diceritain ke teman-teman dan keluarga gue.
Pelajaran yang Didapat: Lebih dari Sekadar Traveling

Dari perjalanan gue menyusuri jejak sejarah Joseon ini, gue dapet banyak pelajaran berharga. Gue jadi lebih menghargai sejarah dan budaya Korea. Gue juga jadi lebih sadar akan pentingnya menjaga kesopanan dan menghormati orang lain.
Selain itu, gue juga jadi lebih percaya diri dan berani keluar dari zona nyaman. Gue jadi berani nyobain hal-hal baru, ngobrol sama orang asing, dan menghadapi tantangan yang ada.
Yang paling penting, gue jadi lebih menghargai hidup ini. Gue sadar, hidup ini singkat dan penuh kejutan. Jadi, kita harus memanfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin dan menikmati setiap momen yang kita jalani.
Kesimpulan: Korea, Sampai Jumpa Lagi!

Akhirnya, perjalanan gue menyusuri jejak sejarah Joseon harus berakhir. Gue pulang dengan membawa banyak kenangan indah, pelajaran berharga, dan tentunya oleh-oleh yang nggak sedikit.
Gue nggak sabar pengen balik lagi ke Korea suatu hari nanti. Masih banyak tempat yang pengen gue kunjungi, makanan yang pengen gue cobain, dan orang-orang yang pengen gue temui.
Korea, sampai jumpa lagi! Annyeong!
Posting Komentar untuk "Menyusuri Jejak Sejarah Joseon: Antara Drama Korea, Istana Megah, dan Kejutan Budaya"
Posting Komentar